1
.Kerja adalah RAHMAT, kita harus bekerja TULUS penuh rasa SYUKUR.2.Kerja adalah AMANAH, kita harus bekerja BENAR penuh rasa TANGGUNGJAWAB.3.Kerja adalah PANGGILAN, kita harus bekerja TUNTAS penuh INTEGRITAS IKHLAS.4.Kerja adalah AKTUALISASI, kita haris bekerja KERAS penuh SEMANGAT.5.Kerja adalah IBADAH, kita harus bekerja SERIUS penuh KECINTAAN.6.Kerja adalah SENI, kita harus bekerja KREATIF penuh SUKACITA.7.Kerja adalah KEHORMATAN, kita harus bekerja TEKUN penuh KEUNGGULAN.8.Kerja adalah PELAYANAN, kita harus bekerja SEMPURNA penuh KERENDAHAN HATI.
KERJA dalam syariat Islam adalah merupakan tindakan yang agung dan mulia. Ia merupakan dasar bagi setiap insan yang sungguh dan giat sebagai jalan untuk menuju kesuksesan. Tanpa bekerja manusia tidak bisa maju dan merasakan nikmatnya hidup, dan dengan bekerja insya Allah akan terbebas dari kemiskinan, serta dengan semangat bekerja pengangguran bisa berkurang.
Dengan bekerja harta seseorang menjadi bertambah, pemasukan bisa diprediksi, dan manusia akan selamat di hadapan Allah di akhirat nanti dengan syarat bekerja yang diridhoi dan dibenarkan syariat Islam, dan Allah SWT membenci pada seseorang yang menganggur atau berpangku tangan. Allah SWT berfirman: "Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. "(Q.S. Al-Jamu'ah: 10).
Kerja menurut Al-Qur'an, mempunyai obyek ganda; kerja untuk dunia dan (amal perbuatan) untuk akhirat. Abdullah bin Umar RA pernah berkata. "Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan kerjakanlah urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.
"Karena itu, Al-Qur'an telah mensejajarkan amal shaleh dengan iman, dan dijadikan argumentasi sekaligus tanda pembenaran, karena iman merupakan pengakuan dalam hati dan pembenaran adalah amal (praktek, kerja). Allah SWT berfirman: "Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. "(Q.S. Al-Ra'du: 29). Setidaknya ada 41 surat yang mensejajarkan antara iman dan amal shaleh. (Wahbah Alzu-haili, Al-Qur'an Al-Karim, Bunaituhu Al-Tasyri'iyyah Wakhasha-ishuhu Al-Hadhariyat).
Bekerja juga termasuk bagian dari ibadah. Sedangkan ibadah sebagai tugas hidup bagi manusia, yang mencakup semua aspek kehidupan (ucapan, perbuatan, pikiran dan sebagainya) yang diridhoi Allah SWT, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal yang dilakukan dengan cara yang baik, dengan tujuan mendapatkan mardhatillah serta untuk kemaslahatan umat.
Agar setiap pekerjaan bernilai ibadah sekaligus berkualitas tinggi ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan: Pertama, Niat (motivasi) yang lurus dan ikhlas (baik) setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar) Niat yang kita tanamkan adalah pengabdian kepada Allah SWT dan untuk pemanfaatan hidup yang seluas-luasnya.
Nilai (fahala) sebuah amal tidak semata-mata ditentukan oleh kecilnya perbuatan tersebut, akan tetapi oleh keikhlasan niatnya. Firman Allah SWT: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...." (Q.S Al-Haj: 37).
Kedua, Kesungguhan dan ketekunan dalam melakukan pekerjaan. Pekerjaan baik yang dilakukan dengan penuh kesungguhan akan mengundang rahmat dan cinta dari Allah SWT. (H.R. Thabrani). Disamping itu, pekerjaan atau propesi apapun yang dilakukan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan bukan saja kepada manusia, melainkan juga kepada Allah SWT. Karena itu, disamping pekerjaan itu memerlukan kesungguhan dan ketekunan juga memerlukan kejujuran dan idealisme serta kerja keras.
Salah satu ciri khas orang-orang yang memperoleh kesuksesan adalah mereka yang memiliki ketekunan serta kerja keras. Ketekunan dan kerja keras merupakan elemen yang harus ada pada diri setiap muslim.
Secara sepintas ada persamaan antara perkataan ketekunan serta kerja keras. Tetapi bila diteliti ternyata terdapat perbedaan makna antara keduanya, ketekunan berkaitan dengan sifat bathin, yaitu dimilikinya minat yang amat kuat terhadap bidang pekerjaan yang dimaksud serta menunjukkan seberapa kekuatan bakat (potensi) yang dipunyai. Sementara kerja keras lebih menyentuh fisik, yaitu melakukan pekerjaan dalam bentuk yang nyata secara sungguh-sungguh dan maksimal.
Imam Al-Ghazali pernah mengatakan, jadikanlah kemauan yang sungguh-sungguh (kerjas keras) sebagai mahkota jiwa. Janganlah engkau sampai mengalami kemiskinan akan amal dan kehilangan kemauan bekerja (malas) dan yakinlah bahwa ilmu semata tanpa amal tidak akan dapat menyelamatkan orang dalam arti tetap saja miskin dan serba kekurangan, sementara Nabi SAW, pernah mengatakan, bahwa hal ini bisa membawa manusia kepada kekafiran.
Ketiga, adanya keyakinan bahwa balasan dari pekerjaan yang kita lakukan bukan hanya dari manusia semata akan tetapi balasan Allah SWT secara hakiki di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman: "Siapa saja yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97). Oleh karena itu, setiap amal atau pekerjaan yang kita lakukan harus senantiasa disertai dengan motivasi karena Allah SWT.
Keempat, setiap pekerjaan yang bersifat kolektif (bersama-sama) maka harus dengan bermusyawarah, nasehat dan tolong menolong dalam amar ma'ruf nahi munkar harus senantiasa ditegakkan. Firman Allah SWT: "....Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran....," (Q.S. Al-Maidah: 2).
Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW pernah memberikan pendidikan kepada para sahabatnya agar memiliki etos kerja yang tinggi. Sabdanya: "Setiap tanaman yang ditanamakan oleh seorang muslim, apabila dimakan ia menjadi sedekah, apabila dicuri maka ia menjadi sedekah, apabila dimakan binatang buas maka ia menjadi sedekah, apabila dimakan burung ia menjadi sedekah dan tidaklah seorang muslim mendapatkan bahaya kecuali sedekah." (Shaheh).
Dan dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda: "Kendati kiamat telah terjadi, tetapi bila ditangan salah seorang dari kamu ada sebuah bibit dan kaumku masih memiliki kesempatan untuk menanamnya, maka tanamlah. Sesungguhnya di dalam perbuatan semacam itu ada pahala." (Q.R. Bukhari).
Dalam sejarah pernah dijelaskan bahwa etos kerja yang tinggi juga dimiliki oleh sahabat Nabi SAW, diriwayatkan, pernah seorang laki-laki masuk menghadap Usman bin Affan ketika itu beliau sedang menanam bibit tanaman, laki-laki itu berkata: Wahai amirul mu'minin, mengapa kamu menanam sesuatu padahal kamu sudah tua tidak mungkin dapat menikmati hasilnya? "Anda datang kepadaku saat aku sedang melakukan kebaikan adalah lebih baik daripada anda datang kepadaku ketika aku termasuk orang yang sedang berbuat kerusakan" Itulah jawaban Usman bin Affan.
Setiap orang yang punya kemampuan bekerja dituntut untuk berupaya, berjuang dan berusaha secara maksimal dan sungguh-sungguh. Karena, berusaha di muka bumi ini sama nilainya dengan beribadah bahkan termasuk salah satu jihad di jalan Allah SWT, juga merupakan metode yang jitu dalam meninggikan nilai ajaran agama dan pemeluknya.
Menurut Islam paling jelek tindakan dalam memenuhi kebutuhan hidup jika sepenuhnya bersandar pada perjuangan orang lain dan meminta-minta, padahal keadaan dirinya mampu untuk bekerja, juga tidak dililit oleh kehidupan yang mendesak, tindakan semacam ini merupakan kegiatan yang kosong dari semangat berjuang untuk bekerja.
Padahal Allah SWT sangat memuliakan seseorang yang memberi dibandingkan peminta-minta sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: "Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Dan mulailah dari anggota keluargamu. "(H. R. Ahmad dan Thabrani). Selanjutnya, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta maka Allah membuka tujuh puluh pintu kefakiran kepadanya." (H.R. Tarmizi).
Penutup Ketekunan dalam bidang pekerjaan serta kerja keras selain merupakan elemen sangat penting bagi penunjang kesuksesan seseorang, juga mampu mencegah dari hal-hal yang tidak baik. Sifat malas serta pengangguran bukan saja menjauhkan seseorang dari kesuksesan atau keberhasilan hidup, tapi bisa menyeret orang kepada sesuatu yang negatif, seperti menghabiskan waktu hanya untuk bergunjing yang tak ada gunanya. Wallahu A'lam. (am)