Wednesday, October 31, 2007

Soulmate..

Saya yakin soulmate, sebagaimana rezeki dan kejadian2 penting dalam hidup kita memang sudah kita (Tuhan, malaikat n ruh2 berkaitan) setting di alam ruh sebelum turun ke bumi, layaknya persiapan sebelum pementasan digelar di 'panggung sandiwara' bumi..
Kita telah memilih jalan kita sendiri dan oleh sebab itu bertanggung jawab penuh demi kelangsungannya..Nah, demikian juga halnya dengan mencari soulmate, partner kita sebenarnya..Kadang2 menjadi sulit dalam menemukannya karena kita memberikan kategori2 tertentu dalam pilihan kita berdasarkan selera, status sosial ekonomi, kecantikan, kesamaan latar belakang dan faktor lainnya..
Rasa yang seharusnya menjadi pedoman kita dalam menemukannya, kadang2 tidak kita rasakan perannya..Walaupun demikian, ada juga yang menemukan soulmatenya tanpa paham bagaimana prosesnya..Ada juga yang gagal menemukan soulmatenya karena 'membutakan' dan tidak menghiraukan suara hatinya..
So, selami hati Anda dan semoga Anda menemukannya suatu waktu..HAti anda berdesir, berdetak dan seperti sudah kenal lama walaupun baru kenal..Bersamanya hati anda seperti kontak, seolah saling mengisi dan melengkapi..Perasaan yang bukan karena ketertarikan fisik, kecantikan atau kekayaan, melainkan ketertarikan hati..
-BAmbang sidharta-

Monday, October 29, 2007

Shalat Khusyu

Shalat khusyu bisa bertahap2 dan berbeda tingkatannya pada tiap orangtergantung perkembangan spiritualnya..Mereka yang berhati bersih, ihsan akanmudah menemukan shalat khusyu..Ga terpatok pada cepat atau lambatnya shalat,tetapi emg kebanyakan yg shalatnya khusyu lebih lama, karena menikmati danterharu, haru biru..Semua tergantung ridha Allah pada usaha kita..KArena Dialah yang membuka,menutup, membolak-balikkan hati hambanya..BAgi pemula emang berat utkmenemukannya, tetapi dorongan yg kuat utk berusaha menemukan shalat khusyu insyaAllah suatu waktu akan menemukannya..

Berawal dari rukun yang benar dan berlanjutke hati..NAmun sejatinya, mereka yang uda di level ustadz dan kiai sekalipun belumtentu menemukan shalat khusyu, jika hatinya belum bersih dari penyakit2hati..KArena ustadz atau kiai hanya gelar duniawi, hanya Allah yg berhak memberigelar bagi hambanya: Muslimin, muttaqin, muhsinin atau kafir...Sehingga Allahmenegur mereka yang shalat tapi lalai dalam shalatnya..Ini yang jarang dibahasoleh ahli fiqh dan kaum syariat..Mereka cenderung memisahkan spiritual dari agama, sehingga agama tinggal hanya ritual seremonial belaka tanpa makna,ajaran2 fiqh, dalil, fatwa, logika dan membid'ahkan kaum tasawuf; padahal kaumtasawuflah yang banyak menemukan fenomena ibadah khusyu ini karena berupayamembersihkan hati selalu..

Akibat mindset yang menolak spiritual dan menyamaratakannya dengan mistik,klenik dan ulah jin sehingga banyak manusia yang shalatpun tidak pernahmerasakan namanya khusyu'..Buka dan bersihkan hati, bersihkan niat, tingkahlaku, perbuatan, semoga ibadah khusyu bukan lagi sesuatu yang dianggap tidakada..

Fenomena khusyu bisa beragam, ada yang pake emosional dibuat2 seolah khusyusampai menangis2, namun ada yang benar2 mengalir: hati damai, bahagia, seger,indah, mekar dan semua hal lain yang sulit dijelaskan dengan kata2..Gerakan shalat yang ringan dengan sendirinya, hati bergetar setiap kata2 dan doa dalamshalat, angin membelai mesra, cahaya matahari menyayanginya lembut, mereka yangmerasakan sedang bertemu dengan kekasih (Allah) penuh cinta dan rindu, Sang Rajasemesta, waktu berhenti berputar, sunyi, senyap damai, seluruh sel tubuhnya ikutshalat memuji Allah, dimakmumi oleh para malaikat, makhluk lain kasat mata, alamsemesta bertasbih mendoakannya, tubuh ringan melayang, masuk ke dimensi lain,dan sebagainya...Oleh sebab itu, definisi khusyu sangat individual...Sehingga saya heran jika ada yang hanya melaksanakan shalat hanya sekedarmenggugurkan kewajiban dan ala kadarnya..PAdahal Nabi semalam suntuk menikmatishalatnya sehingga ga sadar kalau kakinya membengkak, padahal beliau dijaminsurga dan pemberi syafaat kelak...Salam

-bambang sidharta-

Thursday, July 07, 2005

Tujuhpuluhribu Hijab

betapa jauh perjalanantujuhpuluhribu hijab ini,
ya Allahbetapa tebalnya megatujuh puluh ribu hijabmenerawangi cahaya-Mu,
ya Allahbetapa tak terdaya untuk menempuh satu makam nafsu ke satu makam nafsu selaksa tujuh puluh ribu hijab,
ya Allah di tengah gurun pasir kafilah kamilah unta-unta yang bebal dan tersesat memikul beban dosa mencari-Mu,
ya Allahdi tengah lautan perjuangan kamilah armada yang tewas dikeroyok nafsu maha dahsyat maha gelora,
ya Allah di manakah tersimpan kunci ajaib untuk membuka tujuhpuluhribu peti laduni di dasar langit-Mu,
ya Allahdi manakah taman-taman cahaya yang bersemadi para kekasih bertasbih memuji-Mu dalam setiap detik dalam setiap titik dalam setiap fana dalam setiap syuhud di sebalik kami yang igau dalam tembok-tembok penjara dunia sesempit tujuh puluh ribu hijab ini,
ya Allah ya Allah, betapa rindunya kami kepada-Mu terasing siang dan malam tanpa bicara tanpa pendengaran tanpa penglihatan terkambus asyik di syurga kencana lepaskan kami,
ya Allah dari tujuhpuluhribu pintu gerbang yang menutupi mata hati kami
ya Allah, betapa jahilnya kami tidak mengenal-Mu dalam pernafasan tujuhpuluhribu hijab yang kami sedut yang kami hembuskan dari setiap denyutan nadi
ya Allah, betapa kami ini buta huruf kami sebenarnya tak mampu mengeja tujuhpuluhribu huruf maknawi yang terhijab pada nama-Mu
ya Allah, betapa dekatnya Kau lebih dekat dari urat leher kami namun kami masih engkar mencari-Mu di luar diri kami yang tujuhpuluhribu hijab
ya Allah, kurniakan kami rindu Musa bukan serpihan debu Thursina
mata kamilah yang buta kerana tak memandang Wajah-Mu
di benua tujuhpuluhribu hijab ini telinga kamilah yang tuli kerana tak mendengar ayat-ayat-Mu lidah kamilah yang bisu kerana tak bersyukur kepada-Mu

puisikarya H.B. Johar

Wednesday, June 29, 2005

Kebajikan Paling Utama



Kebajikan yang seharusnya kita lakukan

Ketika ditanya tentang nilai kebajikan, Al-Ghazali menjawab: "Kebajikan paling utama adalah menghapuskan kemiskinan dan kekejaman yang mencengkeram rakyat jelata. Kebajikan semacam itu dimungkinkan terdapat pada seseorang yang memiliki kekuasaan. Dengan kekuasaannya, orang itu berupaya memberantas korupsi, nepotisme, ketidakadilan, penyuapan dan penyakit lain yang membuat rakyat menderita di bawah kelaliman."

Islam Pluralis Melampaui Simbol-simbol Agama



Oleh Zuly Qodir

ISLAM humanis sebagai bentuk nyata dari Islam rahmatan lil alamin harus diwujudkan di Tanah Air. Apalagi, belakangan ada kecenderungan di antara umat Islam sendiri terjadi perbedaan yang sangat tajam, sehingga tak jarang menimbulkan bentrokan-bentrokan. Islam yang bersifat humanis akhirnya berubah menjadi Islam yang sangar, galak, dan penuh kekerasan. Islam menjadi sangat menakutkan, bukan terhadap agama lain, tetapi malah terhadap sesama penganut Islam sendiri.
Hal semacam itu tentu tidak kondusif bagi pertumbuhan civil society serta civil religion di Tanah Air yang tengah menyongsong otonomi daerah. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah teologi baru yang mampu menciptakan kondisi kondusif bagi tumbuhnya Islam yang humanis.

Apabila sesama umat Islam telah mampu merumuskan sebuah teologi baru, yang disebut "teologi toleransi", maka akan tereliminasilah Islam yang berwajah galak tersebut. Setelah berkembang "teologi toleransi", maka perkembangan Islam akan mengarah pada Islam pluralis.

Dari sana akan memungkinkan terjadinya sebuah sinergi antarkekuatan umat beragama dalam merespons masalah-masalah sosial yang muncul di Tanah Air. Masalah buruh, petani, pekerja seks, pedagang kaki lima, korupsi, dan lainnya, lama-lama harus di-setting menjadi masalah bersama, yang membutuhkan penanganan secara kolektif. Di sinilah sebenarnya wajah Islam rahmatan lil alamin bisa sangat jelas tercermin.

Dengan membuka wacana baru tentang "teologi toleransi", sebenarnya kita berharap akan tumbuh dan berkembang sebuah sikap beragama yang toleran, inklusif, dialogis, juga pluralis. Hal ini akan menyambung gagasan besar tentang perlunya sebuah pemahaman Islam yang transformatif, dan dekonstruksi atas pola-pola lama yang tidak transformatif yang menjadikan sikap intoleransi dan parokialisme berkembang di kalangan umat beragama, termasuk kalangan Islam sendiri.

Bangunan Islam pluralis merupakan gambar Islam yang sungguh mencerminkan keberagamaan yang "lintas batas" (passing over), karena tidak lagi tersekat pada batas-batas ritual simbolik agama-agama. Dengan demikian, simbol dalam agama-agama tidak menjadikan seseorang merasa takut bertegur sapa, berdialog, dan bekerja sama untuk merespons masalah-masalah sosial kemanusiaan yang menghadang di depan agama-agama.

Perbedaan simbolik dalam agama-agama tidaklah dipandang sebagai substansi agama, namun dipandang sebagai jalan arteri menuju Tuhan. Jalan yang berbeda-beda, tetapi untuk menuju tujuan yang sama, yakni Tuhan dengan banyak nama.

Secara teologis dan sosial, kita sebagai umat Islam tertantang dengan realitas pluralitas agama dan realitas sosial. Pada satu pihak kita diharapkan mampu menempatkan diri untuk secara bersama hadir di tengah realitas pluralitas agama. Sementara di pihak lain doktrin teologis juga "menghalang-halangi" keterlibatan kita dengan agama-agama yang berbeda-beda.

Di sinilah kemudian kita mengalami kebingungan teologis yang harus segera dicarikan jalan keluarnya agar keberagamaan kita tidak tenggelam dalam sekat parokialisme, dan egosentrisme religius yang dibungkus dalam egoisme teologis lalu menganggap agama lain adalah "agama setan".

Pada posisi seperti itulah, Islam pluralis sebenarnya mencoba hadir untuk menjadi tawaran bagi keberagamaan kita. Sebuah keberagamaan yang menempatkan agama-agama secara setara, tidak mendominasi kebenaran (truth claim) karena merasa paling sempurna dan paling lengkap, tidak menganggap agama lain tidak lengkap atau bahkan menyesatkan.

Standar ganda umat beragama biasanya mewarnai kehidupan seseorang, sehingga memosisikan agamanya lebih ketimbang agama orang lain. Dari sana konflik antar-agama memang pada akhirnya tidak bisa dihindarkan, karena merasa harus mempertahankan keunggulan agamanya di hadapan agama orang lain.

Hemat saya, apabila Islam pluralis mampu hadir di tengah masyarakat yang selama tiga tahun belakangan sarat konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), agaknya akan menjadi harapan bersama umat beragama yang tengah menanti kehadiran kembali Tuhan di muka Bumi. Sejarah Tuhan yang nyata akan kembali dapat kita lihat karyanya karena para umat beragama tidak saja mampu mengemban ajaran agamanya, tetapi mampu merumuskan ajaran agama tersebut secara kontekstual berhadapan dengan masalah-masalah sosial.

Apabila ada kekhawatiran Tuhan tidak lagi hadir dalam karya umat agama, itu sebenarnya lebih banyak disebabkan karena umat beragama terlalu disibukkan dengan urusan-urusan sektarianisme, parokialisme, dan pragmatisme teologis; bukan sibuk memahami dan melakoni oleh nilai-nilai universal agama-agama.
***
BARANGKALI salah satu metode mengurangi terjadinya konflik antar-agama di Tanah Air kita yang notabene pluralistik ini adalah dengan melepaskan klaim-klaim kebenaran (truth claim) dan doktrin penyelamatan yang berlebihan, berani mengoreksi diri atas keberagamaan kita, menghilangkan cara pandang standar ganda yang seringkali kita terapkan terhadap agama orang lain, kemudian semakin memperluas pandangan inklusif yang mengarah pada pandangan teologi pluralis. Dari sanalah agama-agama memiliki peran nyata dalam menghadapi pelbagai macam ancaman konflik sosial dan krisis multidimensi yang telah berlangsung tiga tahun belakangan.

Kita sekarang memang sangat jelas berharap pada berkembangnya sebuah pandangan keagamaan yang progresif dan tidak sektarian. Pandangan keagamaan yang semacam ini akan membawa kita pada cara beragama yang liberal, inklusif, dan pluralis, sehingga kita pun optimistis atas masa depan agama di depan hadangan perkembangan science modern yang menawarkan cara baru dalam hidup bermasyarakat.

Pandangan progresif, liberal, dan pluralistis ini pula yang akan menjadikan keagamaan seseorang tidak terpaku pada "sangkar besi" teologis yang tidak humanis, tetapi teologi yang mengutamakan kesalehan individual. Kesalehan individual inilah yang secara bertahap namun pasti akan menjadi musuh besar kesalehan sosial.

Fenomena ramainya rumah-rumah ibadah oleh umat beragama, tetapi korupsi di negara ini menduduki peringkat pertama, adalah bukti tidak signifikannya antara kesalehan individual dengan keagamaan seseorang.

Seorang yang beragama dan saleh secara individu ternyata tidak berperilaku saleh secara sosial. Oleh sebab itulah, teologi progresif, liberal, dan pluralis harus mengarah pada berkembangnya kesalehan sosial umat beragama, karena di sinilah sebenarnya kesadaran teologi menemukan rumusannya yang paling jelas.

Apa yang dilakukan PBNU dan Muhammadiyah untuk "bergandeng tangan" dalam merumuskan dan mengembangkan Islam yang berwajah santun, modern, responsif, dan ramah beberapa waktu lalu perlu disambut oleh banyak pihak. Tanpa sambutan banyak pihak, wacana dan praksis Islam toleran agaknya akan tertunda-tunda. Untuk menyambung "rekonsiliasi NU-Muhammadiyah" tersebut kita perlu membangun wacana Islam yang lebih toleran, inklusif, dan pluralis antara Islam dengan agama lain.

Munculnya corak keagamaan yang fundamentalis-radikal, harus dibarengi dengan semangat menumbuhkembangkan sikap toleran dan inklusif sebagai bentuk nyata dari Islam pluralis yang sangat sesuai dengan tujuan Islam sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia. Tanpa semangat yang tinggi untuk mengembangkan wacana Islam toleran dan inklusif, saya pesimistis akan tumbuhnya Islam pluralis.

Dengan mencoba secara sungguh-sungguh mengembangkan teologi toleran, maka keagamaan yang inklusif dan pluralis akan benar-benar menjadi wacana baru dan basis dalam perjuangan melawan segala bentuk kezaliman. Wacana baru itu berdasar teologi progresif, liberatif, yang tidak lagi tersekat oleh adanya simbol-simbol ritual agama-agama, namun tersatukan oleh kesadaran bersama universalitas nilai-nilai spiritual esoteris agama-agama.

Berdasarkan penjelasan seperti di atas, sebagai kesimpulan perlu ditekankan kembali bahwa Islam pluralis sungguh merupakan agama yang telah melampaui simbol-simbol agama.

Namun demikian, tidak berarti bahwa Islam pluralis tidak mengakui adanya pelbagai perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing agama. Malahan, Islam pluralis menempatkan seseorang untuk tetap pada identitasnya, tanpa merendahkan agama orang lain.

Penulis adalah Editor pada Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) YogyakartaTulisan ini dikutip dari HU Kompas, edisi, Jumat, 11 Oktober 2002

Keajaiban Dalam Rahim Ibu



Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita.
Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi.

Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan.

Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda
Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak.

Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia. Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali.

Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.

Lalu, siapakah yang menjadikan sel-sel yang tak memiliki akal pikiran tersebut mengikuti rencana cerdas ini? Profesor Cevat Babuna, mantan dekan Fakultas Kedokteran, Ginekologi dan Kebidanan, Universitas Istanbul, Turki, berkomentar:
Bagaimana semua sel yang sama persis ini bergerak menuju tempat yang sama sekali berbeda, seolah-olah mereka secara mendadak menerima perintah dari suatu tempat, dan berusaha agar benar-benar terbentuk organ-organ yang sungguh berbeda? Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.

Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup.

Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan.

Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli. Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi.

Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal.
Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri? Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting. Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan. Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.
Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah.

Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio.

Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio. Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata. Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat. Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat.

Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim. Telinga yang akan mendengarkan segala suara tersebut juga dibentuk dalam perut ibu. Sel-sel tersebut membentuk alat penerima suara terbaik di dunia.

Semua uraian ini mengingatkan kita bahwa penglihatan dan pendengaran adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Allah menerangkan hal ini dalam Alquran sebagaimana berikut:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl, 16:78)

Penciptaan Kedua

Berbagai peristiwa yang telah dikisahkan dalam tulisan ini dialami oleh semua orang di dunia. Setiap manusia dipancarkan ke rahim sebagai sebuah sel sperma yang kemudian bersatu dengan sel telur, dan kemudian memulai kehidupan sebagai sel tunggal. Semua ini terjadi karena adanya kondisi yang secara khusus diciptakan di tempat tersebut. Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal.

Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah.

Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya.

Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Al Quran : Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yaasiin, 36:77-79)

Sumber : HarunYahya

Saturday, June 18, 2005

Empat jenis manusia

Sang Buddha mengatakan bahwa ada empat macam orang di dunia ini:
mereka yang berlari dari gelap menuju gelap; mereka yang berlari dariterang menuju gelap; mereka yang berlari dari gelap menuju terang; dan mereka yang berlari dari terang menuju terang.
Bagi orang dalam kelompok pertama, di sekitarnya hanya ada ketidakbahagiaan, kegelapan. Tetapi kesialannya yang paling besar adalah bahwa dia juga tidak memiliki kebijaksanaan. Setiap kali menemui penderitaan, dia mengembangkan lebih banyak kemarahan, lebih banyak dosa, lebih banyak kebencian. Dia menyalahkan orang lain karena penderitaannya. Semua sankhara kemarahan dan kebencian itu akan membawa padanya lebih banyak kegelapan, lebih banyak penderitaan di masa depan.
Orang di dalam kelompok kedua memiliki apa yang disebut 'terang' didunia ini: uang, posisi, kekuasaan, tetapi dia tidak memiliki kebijaksanaan. Karena kebodohan batinnya, dia mengembangkan egoisme karena tidak memahami bahwa ketegangan-ketegangan egoisme itu akan membawanya pada kegelapan di masa depan.
Orang di dalam kelompok ketiga ada dalam posisi yang sama seperti kelompok pertama, dikelilingi oleh kegelapan. Tetapi dia memiliki kebijaksanaan dan memahami situasi itu. Karena mengetahui bahwa sebenarnya dialah yang bertanggung jawab atas penderitaannya sendiri, dengan tenang dan damai dia melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk mengubah situasi itu, tanpa kemarahan atau kebencian apa pun terhadap orang lain. Dia malahan memiliki metta dan karuna bagi mereka yang merugikan kita. Yang dia ciptakan untuk masa depannya adalah kecerahan.
Orang di dalam kelompok keempat persis sama dengan kelompok kedua: menikmati uang, posisi, dan kekuasaan. Tetapi tidak seperti kelompok kedua, dia memiliki kebijaksanaan. Dia menggunakan apa yang dimilikinya untuk mempertahankan dirinya sendiri dan mereka yang bergantung padanya. Tetapi apa pun yang tersisa digunakannya untukkebaikan orang lain, dengan metta dan karuna. Terang sekarang, dan terang juga untuk masa depan.
Orang tidak dapat memilih gelap atau terang sekarang ini karena hal itu ditentukan oleh sankhara lampaunya. Masa lalu tidak dapat diubah. Tetapi dia masih dapat mengontrol masa kini dengan cara menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Masa depan hanyalah masa lalu plus apa yang ditambahkan saat ini. Vipassana mengajarkan cara untuk menjadi tuan bagi diri sendiri, dengan mengembangkan kesadaran dan ketenangseimbangan terhadap sensasi. Jika masa kini dikuasai, maka masa depan pun secara otomatis akan menjadi cerah.Gunakanlah dua hari yang tersisa ini untuk mempelajari cara menjadi tuan masa kini, tuan bagi diri Anda sendiri. Teruslah berkembang dalam Dhamma, agar Anda dapat keluar dari semua penderitaan dan agarAnda dapat menikmati kebahagiaan sejati, disini dan kini.
Semoga semua makhluk bahagia.http://indodhamma.tk

Wednesday, June 15, 2005

ETHOS KERJA PROFESIONAL

1.Kerja adalah RAHMAT, kita harus bekerja TULUS penuh rasa SYUKUR.

2.Kerja adalah AMANAH, kita harus bekerja BENAR penuh rasa TANGGUNGJAWAB.

3.Kerja adalah PANGGILAN, kita harus bekerja TUNTAS penuh INTEGRITAS IKHLAS.

4.Kerja adalah AKTUALISASI, kita haris bekerja KERAS penuh SEMANGAT.

5.Kerja adalah IBADAH, kita harus bekerja SERIUS penuh KECINTAAN.

6.Kerja adalah SENI, kita harus bekerja KREATIF penuh SUKACITA.

7.Kerja adalah KEHORMATAN, kita harus bekerja TEKUN penuh KEUNGGULAN.

8.Kerja adalah PELAYANAN, kita harus bekerja SEMPURNA penuh KERENDAHAN HATI.

KERJA dalam syariat Islam adalah merupakan tindakan yang agung dan mulia. Ia merupakan dasar bagi setiap insan yang sungguh dan giat sebagai jalan untuk menuju kesuksesan. Tanpa bekerja manusia tidak bisa maju dan merasakan nikmatnya hidup, dan dengan bekerja insya Allah akan terbebas dari kemiskinan, serta dengan semangat bekerja pengangguran bisa berkurang.

Dengan bekerja harta seseorang menjadi bertambah, pemasukan bisa diprediksi, dan manusia akan selamat di hadapan Allah di akhirat nanti dengan syarat bekerja yang diridhoi dan dibenarkan syariat Islam, dan Allah SWT membenci pada seseorang yang menganggur atau berpangku tangan. Allah SWT berfirman: "Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. "(Q.S. Al-Jamu'ah: 10).

Kerja menurut Al-Qur'an, mempunyai obyek ganda; kerja untuk dunia dan (amal perbuatan) untuk akhirat. Abdullah bin Umar RA pernah berkata. "Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan kerjakanlah urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.

"Karena itu, Al-Qur'an telah mensejajarkan amal shaleh dengan iman, dan dijadikan argumentasi sekaligus tanda pembenaran, karena iman merupakan pengakuan dalam hati dan pembenaran adalah amal (praktek, kerja). Allah SWT berfirman: "Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. "(Q.S. Al-Ra'du: 29). Setidaknya ada 41 surat yang mensejajarkan antara iman dan amal shaleh. (Wahbah Alzu-haili, Al-Qur'an Al-Karim, Bunaituhu Al-Tasyri'iyyah Wakhasha-ishuhu Al-Hadhariyat).

Bekerja juga termasuk bagian dari ibadah. Sedangkan ibadah sebagai tugas hidup bagi manusia, yang mencakup semua aspek kehidupan (ucapan, perbuatan, pikiran dan sebagainya) yang diridhoi Allah SWT, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal yang dilakukan dengan cara yang baik, dengan tujuan mendapatkan mardhatillah serta untuk kemaslahatan umat.
Agar setiap pekerjaan bernilai ibadah sekaligus berkualitas tinggi ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan: Pertama, Niat (motivasi) yang lurus dan ikhlas (baik) setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar) Niat yang kita tanamkan adalah pengabdian kepada Allah SWT dan untuk pemanfaatan hidup yang seluas-luasnya.

Nilai (fahala) sebuah amal tidak semata-mata ditentukan oleh kecilnya perbuatan tersebut, akan tetapi oleh keikhlasan niatnya. Firman Allah SWT: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...." (Q.S Al-Haj: 37).

Kedua, Kesungguhan dan ketekunan dalam melakukan pekerjaan. Pekerjaan baik yang dilakukan dengan penuh kesungguhan akan mengundang rahmat dan cinta dari Allah SWT. (H.R. Thabrani). Disamping itu, pekerjaan atau propesi apapun yang dilakukan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan bukan saja kepada manusia, melainkan juga kepada Allah SWT. Karena itu, disamping pekerjaan itu memerlukan kesungguhan dan ketekunan juga memerlukan kejujuran dan idealisme serta kerja keras.

Salah satu ciri khas orang-orang yang memperoleh kesuksesan adalah mereka yang memiliki ketekunan serta kerja keras. Ketekunan dan kerja keras merupakan elemen yang harus ada pada diri setiap muslim.

Secara sepintas ada persamaan antara perkataan ketekunan serta kerja keras. Tetapi bila diteliti ternyata terdapat perbedaan makna antara keduanya, ketekunan berkaitan dengan sifat bathin, yaitu dimilikinya minat yang amat kuat terhadap bidang pekerjaan yang dimaksud serta menunjukkan seberapa kekuatan bakat (potensi) yang dipunyai. Sementara kerja keras lebih menyentuh fisik, yaitu melakukan pekerjaan dalam bentuk yang nyata secara sungguh-sungguh dan maksimal.

Imam Al-Ghazali pernah mengatakan, jadikanlah kemauan yang sungguh-sungguh (kerjas keras) sebagai mahkota jiwa. Janganlah engkau sampai mengalami kemiskinan akan amal dan kehilangan kemauan bekerja (malas) dan yakinlah bahwa ilmu semata tanpa amal tidak akan dapat menyelamatkan orang dalam arti tetap saja miskin dan serba kekurangan, sementara Nabi SAW, pernah mengatakan, bahwa hal ini bisa membawa manusia kepada kekafiran.
Ketiga, adanya keyakinan bahwa balasan dari pekerjaan yang kita lakukan bukan hanya dari manusia semata akan tetapi balasan Allah SWT secara hakiki di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman: "Siapa saja yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97). Oleh karena itu, setiap amal atau pekerjaan yang kita lakukan harus senantiasa disertai dengan motivasi karena Allah SWT.

Keempat, setiap pekerjaan yang bersifat kolektif (bersama-sama) maka harus dengan bermusyawarah, nasehat dan tolong menolong dalam amar ma'ruf nahi munkar harus senantiasa ditegakkan. Firman Allah SWT: "....Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran....," (Q.S. Al-Maidah: 2).

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW pernah memberikan pendidikan kepada para sahabatnya agar memiliki etos kerja yang tinggi. Sabdanya: "Setiap tanaman yang ditanamakan oleh seorang muslim, apabila dimakan ia menjadi sedekah, apabila dicuri maka ia menjadi sedekah, apabila dimakan binatang buas maka ia menjadi sedekah, apabila dimakan burung ia menjadi sedekah dan tidaklah seorang muslim mendapatkan bahaya kecuali sedekah." (Shaheh).

Dan dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda: "Kendati kiamat telah terjadi, tetapi bila ditangan salah seorang dari kamu ada sebuah bibit dan kaumku masih memiliki kesempatan untuk menanamnya, maka tanamlah. Sesungguhnya di dalam perbuatan semacam itu ada pahala." (Q.R. Bukhari).

Dalam sejarah pernah dijelaskan bahwa etos kerja yang tinggi juga dimiliki oleh sahabat Nabi SAW, diriwayatkan, pernah seorang laki-laki masuk menghadap Usman bin Affan ketika itu beliau sedang menanam bibit tanaman, laki-laki itu berkata: Wahai amirul mu'minin, mengapa kamu menanam sesuatu padahal kamu sudah tua tidak mungkin dapat menikmati hasilnya? "Anda datang kepadaku saat aku sedang melakukan kebaikan adalah lebih baik daripada anda datang kepadaku ketika aku termasuk orang yang sedang berbuat kerusakan" Itulah jawaban Usman bin Affan.

Setiap orang yang punya kemampuan bekerja dituntut untuk berupaya, berjuang dan berusaha secara maksimal dan sungguh-sungguh. Karena, berusaha di muka bumi ini sama nilainya dengan beribadah bahkan termasuk salah satu jihad di jalan Allah SWT, juga merupakan metode yang jitu dalam meninggikan nilai ajaran agama dan pemeluknya.

Menurut Islam paling jelek tindakan dalam memenuhi kebutuhan hidup jika sepenuhnya bersandar pada perjuangan orang lain dan meminta-minta, padahal keadaan dirinya mampu untuk bekerja, juga tidak dililit oleh kehidupan yang mendesak, tindakan semacam ini merupakan kegiatan yang kosong dari semangat berjuang untuk bekerja.

Padahal Allah SWT sangat memuliakan seseorang yang memberi dibandingkan peminta-minta sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: "Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Dan mulailah dari anggota keluargamu. "(H. R. Ahmad dan Thabrani). Selanjutnya, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta maka Allah membuka tujuh puluh pintu kefakiran kepadanya." (H.R. Tarmizi).

Penutup Ketekunan dalam bidang pekerjaan serta kerja keras selain merupakan elemen sangat penting bagi penunjang kesuksesan seseorang, juga mampu mencegah dari hal-hal yang tidak baik. Sifat malas serta pengangguran bukan saja menjauhkan seseorang dari kesuksesan atau keberhasilan hidup, tapi bisa menyeret orang kepada sesuatu yang negatif, seperti menghabiskan waktu hanya untuk bergunjing yang tak ada gunanya. Wallahu A'lam. (am)

Friday, May 27, 2005

Rahasia kebahagiaan

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan : Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.

Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.

Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetah uan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.

Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati : memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.

Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat. Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya. Kebahagiaan berarti menerima apapun yang dat ang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku". Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil. Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang dikatakannya. "Tak ada kesenangan yang lebih besar dari pada membantu seseorang membuat perbedaan positif dalam kehidupan orang tersebut." Mary Rose McGeady